tafaddhol :)

Powered By Blogger

Sabtu, 08 Juni 2013

Sekilas Tentang Jilbab dan Hati ku :'')



Jibab sepertinya telah mendarah daging dengan diri ku, bisa dibilang semenjak memasuki usia Baligh (usia yang sudah wajib untuk melaksanakan perintah Allah) tapi seperti kebanyakan gadis lainnya yaitu hanya menggunakan sehelai kain untuk membungkus kepala. Ah begitu mirisnya.
SMP hingga SMA gaya berjilbab itu masih ku realisasikan dalam keseharian ku, entah itu karena iman ku yang saat itu sangat dangkal atau apa entahlah. Pengetahuan agama bisa dibilang ada tapi entah kenapa hati rasanya tidak ingin  bergerak, hanya ingin berhenti disitu saja dengan jilbab tipis yang lagi nge-trend saat itu. Walaupun celana jeans sudah lama tidak pernah menyentuh kulit ku lagi akan tetapi herannya baju ketat masih sering menempel ditubuh ku, ah betapa gobloknya saya saat itu. Terkadang jilbab pendek yang panjangnya hanya sampai sebahu pun masih saya kenakan, sampai dibangku kuliah saja jilbab tipis itu masih ku kenakan.
Hingga suatu hari saya menghadiri sebuah acara Muslimah di sebuah gedung, betapa ciutnya saya hari itu melihat sesosok gadis sebaya ku dengan jilbab besarnya bahkan ada yang istiqomah dengan Cadarnya. Yah mereka adalah teman saya masa TK dan SMP, pikiran dan hati saya hari itu seperti berkecamuk, dua orang itu duduk disamping ku. Ahh saya merasa seperti makhluk luar angkasa yang tiba-tiba terdampar disebuah kota modern dengan pakaian paling kampungan se-kota itu. Ahh rasanya ingin lenyap seketika dari tempat itu, betul-betul memalukan duduk diantara orang berjilbab besar sementara saya hanya dengan jilbab tipis transparan ku yang sangat memalukan.
Setelah kejadian itu tekad ku mulai bulat untuk memanjangkan jilbab perlahan demi perlahan. Dan pada akhirnya kukenakan jilbab panjang perdana ku, kaos kaki perdana ku pun tak ketinggalan saat acara keluarga di salah satu tempat wisata, ini dia fotonya :

Saya yang jilbab pink ^^

Saat itu saya betul-betul serasa menjadi diri sendiri, rasanya damaaaai dan nyaman sekali bersama baju longgar, rok serta jilbab ku.
Setelah kejadian itu saya kembali menguji nyali dengan memanjangkan jilbab ke salah satu acara kampus, ahh rasanya takut kalau saja teman-teman kampus melihat kearah saya dengan tatapan “aneh” (maklum dikampus yang pake jilbab agak panjang cuman sekian persen-__-). Sesampainya diparkiran acara dengan jilbab yang agak panjang, baju longgar dan kaos kaki ternyata rasa “asing” itu tidak terlalu terasa dibandingkan saya berada diantara orang-orang beriman kemarin. Rasanya dipandangi orang-orang yang berpakaian jauh lebih pantas itu rasanya lebih nusuk dibandingkan dipandangi oleh orang-orang yang pakaiannya jauh lebih tidak pantas dari yang kita gunakan. Rasanya hanya risih sesaat lalu melangkah dengan anggunnya menuju acara kampus, awalnya saja risih dipandangi tapi lama kelamaan yaaaa terserah mereka. Ini dia saya di acara kampus ^^


Untuk apa malu berada diantara orang-orang yang tidak patuh kepada Allah? Ini perintah Allah, ini kewajiban yang mengukur sejauh mana rasa cinta dan taat kita kepada Sang Pencipta Allah SWT. Ayo ukhti kita sama-sama menjemput hidayahNya, bersama-sama berjalan menuju jalanNya meraih RidhoNya. Tak penting pandangan manusia, biarkan mereka berkata apapun asalkan kita masih tetap berada dijalanNya insyaAllah bahagia akan menunggu kita di akhirat amiin ya Allah ^^



Salam Ukhibbukum Fillah ^^
Sitti Zarah Humaerah
@humaeraah

Jumat, 24 Mei 2013

Biografi Abdullah bin Al Mubarak

Ulama, Mujahid dan Dermawan

Abdullah bin Al Mubarak, seorang tabi’in yang sangat terkenal dengan sifat kedermawanannya. Meskipun beliau termasuk orang yang cukup mampu, namum beliau sangat mengerti bagaimana cara mempergunakan hartanya di jalan yang diridhai oleh-Nya.
Beliau (Ibnul Mubarak) biasa pulang pergi ke Tharasus dan biasanya saat di tengah perjalanan bila hari telah menjelang malam, beliau segera singgah beristirahat di sebuah penginapan. Di penginapan itu, ada seorang pelayan muda yang biasa mengurus kebutuhannya. Dan yang lebih menarik perhatian Ibnul Mubarak adalah bahwa pemuda itu ditengah pekerjaan melayani dirinya, juga sangat rajin belajar hadits dengannya. Semangat belajarnya sangat tinggi. Pekerjaanya sebagai pelayan tidak menghalangi untuk terus dan terus memepelajari hadits.
Hingga suatu hari, beliau kembali singgah ke penginapan itu, namum tidak mendapati pemuda tersebut. Saat itu beliau memang sangat tergesa-gesa untuk berperang bersama tentara muslimin, sehingga beliau tidak sempat menanyakan hal itu. Barulah setelah pulang dari peperangan dan kembali ke penginapan, beliau segera menanyakan perihal pemuda tersebut. Orang-orang memberitahukan padanya bahwa pemuda itu kini tengah ditahan karena terlibat hutang yang belum dibayarnya. Maka demi mendengar penjelasan itu, beliau segera bertanya, “Berapakah besar hutangnya, sampai ia tak mampu membayarnya ?”
“Sepuluh ribu dirham,” jawab mereka.
Kemudian beliupun segera menyelidiki dan mencari si pemilik hutang itu. Setelah mengetahui orangnya, beliau lantas menyuruh seseorang untuk memanggil orang tersebut pada malam harinya. Setelah orang itu tiba, Ibnul Mubarak langsung menghitung dan membayar seluruh hutang pemuda tersebut.
Namun segera beliau berpesan, agar pemilik hutang tidak menceritakan kejadian ini kepada siapapun selama beliau masih hidup. Dan orang itupun menyetujuinya. Dan akhirnya Ibnul Mubarak berkata, “Apabila pagi tiba, segera keluarkan pemuda itu dari tahanan.”
Pagi harinya, Abdullah bin Al Mubarak pun segera bergegas pergi sebelum pemuda itu dibebaskan. Pemuda itu kembali ke penginapan. Orang-orang yang melihatnya langsung berkata, “Kemarin Abdullah bin Al Mubarak ke sini dan menanyakan tentang dirimu, namun saat ini dia sudah pergi lagi.” Kini yakinlah pemuda itu, bahwa Abdullah bin Al Mubarak yang telah membebaskan dirinya. Maka segera ia menyelusuri jejak Abdullah dan berhasil menjumpai beliau kira-kira dua-tiga marhalah (sata marhalah kira-kira dua belas mil) jauhnya dari penginapan. Setelah Abdullah bin Mubarak melihat pemuda itu, beliau lantas berkata, “Kemana saja engkau anak muda? Kenapa aku tak pernah melihatmu lagi di penginapan ?”
Pemuda itu lantas menjawab, “Benar wahai Abu Abdirrahman (Ibnul Mubarak), saya memang baru saja ditahan karena terlilit hutang.”
“Lalu bagaimana engkau dibebaskan?” tanya Abdullah.
“Seseorang telah datang membayar seluruh hutangku, hingga aku bisa dibebaskan. Namun sampai saat ini aku tidak tahu, siapa orang yang telah menolongku,” ujar pemuda itu lagi. Ia berharap bila Abdullah mengakuinya, bahwa Abdullahlah orang yang telah membebaskan dirinya.
Namun beliau justru berkata, “Wahai pemuda, bersyukurlah engkau kepada Allah yang telah memberikan taufik-Nya kepadamu, sehingga bisa terlepas dari hutang.”
Maka pemuda itupun kembali ke penginapan tanpa membawa jawaban dari semua rahasia pembebasan dirinya. Lelaki pemilik hutang itu pun tak pernah memberitahukan kepada siapapun sampai Abdullah bin Al- Mubarak wafat.

Ibadah Dan Rasa Takutnya Kepada Allah

Dari Al Qasim bin Muhammad dia berkata, “Kami berada dalam sebuah perjalanan bersama Ibnu Al Mubarak, banyak hal yang aku pikirkan. Aku selalu bertanya-tanya dalam hati, apa yang membuat orang ini menjadi mulia dan terkenal seperti sekarang, jika dia shalat maka kami juga shalat, jika dia berpuasa maka kamipun berpuasa, jika dia ikut berperang maka kami pun juga ikut berperang dan jika dia menunaikan haji maka kami pun juga menunaikan ibadah haji?”
Muhammad Al Qasim berkata lagi, kami sedang dalam perjalanan ke Syam, kami makan malam dalam sebuah rumah penginapan yang tidak ada lampu, sebagian dari kami mencari lampu keluar, aku pun diam di tempat. Namun seberkas cahaya lampu tiba-tiba muncul sehingga aku melihat muka dan jenggot Ibnu Al Mubarak basah dengan air mata. Aku berkata dalam hati, dengan inilah dia menjadi orang yang dimulaikan. Dan kemungkinan ketika lampu-lampu sudah dimatikan Ibnu Al Mubarak sibuk mengingat hari kiamat.
Al Marwazi berkata, aku mendengar Abu Abdullah Ahmad Bin Hambal berkata, “Ibnu Al Mubarak tidak diangkat derajatnya oleh Allah kecuali karena dia telah banyak melakukan kebaikan yang tidak diketahui banyak orang.”
Abu Ishaq Ibrahim Bin Al Asy’ats berkata, “Ketika Ibnu Al Mubarak sedang sakit keras, dia terlihat bersedih sehingga seseorang berkata kepadanya, Bagimu tidak ada yang perlu dirisaukan, kenapa kamu bersedih seperti ini?” Al Mubarak menjawab, “Aku telah sakit sedang aku belum ridha dengan keadaanku.”
Abu Ishaq berkata, “Seseorang bertanya kepada Ibnu Al Mubarak, ‘Jika ada dua orang yang satu mempunyai rasa takut kepada Allah dan satunya lagi terbunuh dalam membela agama Allah, siapa yang paling anda senangi dari kedua orang ini?” Dia menjawab, “Yang paling aku senangi adalah orang yang mempunyai rasa takut kepada Allah.”
Abu Ruh pernah berkata, “Ibnu Al Mubarak telah berkata, ‘Sesungguhnya mata ditipu oleh empat perkara, Pertama, oleh dosa yang telah lewat, pandangan mata tidak mengetahui apa yang Allah perbuat sebagai balasan dosa tersebut. Kedua, oleh umur yang telah berlalu, pandangan mata tidak mengetahui bagaimana harus mempertanggungjawabkan dosa yang telah diperbuat selama itu. Ketiga, oleh kemuliaan yang telah diberikan, pandangan mata tidak mengetahui apakah kemuliaan itu adalah tipuan atau tingkatan yang sebenarnya yang telah didapat. Keempat, oleh kesesatan yang menghiasi seseorang, sedangkan dia mengangggapnya sebagai petunjuk. Barang siapa menyeleweng sedikit maka dengan cepat matanya akan membohonginya dan agamanya akan rusak sedang dia tidak menyadarinya.’”
Dari Abdullah bin Ashim Al Harawi, berkata, “Ada seorang kakek datang kepada Ibnu Al Mubarak, ketika dia melihatnya sedang bersandar di atas bantal tinggi dan kasar, kakek itu lalu berkata, ‘Aku ingin berkata sesuatu kepadanya namun aku melihatnya ketakutan sehingga aku menaruh belas kasih kepadanya.’ Lalu Abdullah Bin Al Mubarak berkata, ‘Allah telah berfirman, “katakanlah kepada orang laki-laki hendaklah mereka menahan pandangannya” Allah telah melarang untuk melihat kecantikan perempuan karena bagaimana kalau sampai berzina dengannya? Allah juga berfirman” kecelakaan besar bagi orang-orang curang” dalam ukuran dan timbangan, bagaimana dengan orang-orang yang mengambil harta dengan cara bathil? Dan Allah juga telah berfirman” Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain” dan bagaimana dengan orang-orang yang membunuh orang lain?’ Kakek itu lalu berkata, ‘Allah akan memberikan rahmat-Nya kepada Al Mubarak, aku tidak melihat ada orang sepertinya dan aku juga tidak akan berkata sesuatu kepadanya.’

Kezuhudan Dan Kewaraan

Dari Abu Ali bin Al Fudhail, dia berkata, “Aku pernah mendengar ayahku berkata kepada Ibnu Al Mubarak, “Wahai Al Mubarak anda telah memerintahkan kepada kami agar berlaku zuhud, menyedikitkan hal-hal duniawi dan merasa cukup, namun kami melihat anda membawa barang-barang dari negara Khurasan ke tanah Mekah, bagaimana kamu melakukan itu?” Ibnu Al Mubarak menjawab, “Wahai Abu Ali, sesungguhnya aku melakukan hal itu untuk menjaga diriku, menjaga kehormatanku dan untuk menopang dalam bertaat kepada Allah, aku tidak melihat kebaikan kecuali aku harus melakukannya dengan cepat.” Kemudian Al Fudhail berkata kepadanya, “Wahai Ibnu Al Mubarak, kamu benar, tidak ada yang lebih baik kecuali kamu telah menjalankannya.”
Dari Hasan bin Arafah, dia berkata, Ibnu Al Mubarak berkata kepadaku, Aku menjamin sebuah pena dari penduduk Syam, setelah selesai aku pergi untuk mengembalikan pena tersebut kepada pemiliknya. Namun ketika aku sampai di Marwa tiba-tiba orang yang aku pinjami pena itu telah berada bersamaku. Maka aku pun mengurungkan niatku, kemudian aku kembali ke Syam untuk mengembalikan pena itu kepadanya setelah dia kembali ke Syam.
Dari Ali bin Al Hasan bin Syaqiq dia berkata, “Aku mendengar Abdullah bin Al Mubarak berkata, “Sesungguhnya mengembalikan satu dirham dari sesuatu yang syubhat lebih baik bagiku dari pada aku bersedekah seratus ribu sampai enam ratus ribu dirham”.

Budi Pekerti Dan Kemuliaannya

Ismail Al Khuthabi berkata, “Ibnu Al Mubarak pernah bercerita kepadaku, bahwa pada suatu hari Al Mubarak datang kepada Hammad bin Zaid dan ulama-ulama hadits berkata kepada Hammad, “Mintalah Ibnu Al Mubarak untuk bercerita kepada kami tentang hadits. Lalu Hammad berkata, “Wahai Ibnu Al Mubarak, mereka meminta kepadaku agar kamu bercerita kepada mereka. Ibnu Al Mubarak menjawab “SubhanAllah, ya Abu Ismail, aku berbicara dan kamu ada?” Hammad berkata, “Aku berharap dengan sangat agar kamu mau melakukannya dan wahai sahabat-sahabatku dengarkanlah Ibnu Al Mubarak.” Maka Ibnu Al Mubarak pun berdiri untuk berbicara, namun dia hanya bercerita sebentar dan itu pun mengutip dari perkataan Hammad. Abu Al Abbas bin Masruq berkata, “Ibnu Humaid pernah bercerita kepada kami, ‘Ada seseorang bersin di samping Ibnu Al Mubarak, orang itu bertanya kepadanya, “apa yang harus aku ucapkan ketika bersin?” Dia menjawab, “Alhamdulillah” Dan setelah orang itu membaca hamdalah, maka Ibnu Al Mubarak berkata “yarhamukAllah” kemudian Ibnu Humaid  berkata, “kami semua merasa kagum dengan sopan santun yang diperlihatkan Ibnu Al Mubarak.”
Ibnu Al Mubarak  berkata, “Kami sangat membutuhkan budi pekerti yang luhur karena sudah banyak orang yang mempunyai budi pekerti yang luhur meninggalkan kita.”
Diriwayatkan dari Al Khatib dengan sanad dari Hibban bin Musa, ia berkata, “Ibnu Al Mubarak sangat menyayangkan terhadap orang-orang yang membedakan profesi sehingga muncul diskriminasi terhadap kelompok tertentu di berbagai daerah.”
Dari Umar bin Hafsh Ash Shufi dari Manbaj, ia berkata, “Ibnu Al Mubarak dari Baghdad ingin pergi ke Al Mashishah, dia ditemani sekelompok sufi. Al Mubarak berkata kepada mereka, ‘Hendaknya kalian tidak membebankan nafkah kecuali kepada kalian.’”
Muhammad bin Ali bin Syaqiq dari ayahnya, ia berkata jika musim haji tiba, Ibnu Al Mubarak mengumpulkan saudara-saudara dari keluarganya yang berada di desa Marwa, mereka berkata, “Kami akan menemanimu menunaikan haji wahai Abu Abdurrahman.” Setelah mereka puas dengan pesta itu, Al Mubarak memerintahkan untuk membuka peti itu, setelah peti itu terbuka Ibnu Al Mubarak memberikan setiap orang dari mereka kantong yang berisi uang yang mereka masukkan sendiri-sendiri. Dan diketahui bahwa setiap bungkusan yang masuk ke dalam peti itu telah diberi tanda oleh Al Mubarak terhadap yang memasukkannya.

Semangat Jihad Dan Keberaniannya

Selain ilmunya yang luas, kezuhudan, kemuliaan dan banyaknya beribadah ,beliau juga banyak dihiasi dengan kegemaran berjihad dan mempunyai keberanian tinggi. Diriwayatkan dari Al Khatib dengan sanad dari Ubaid bin Sulaiman (nama lainnya Al Marwazi) ia berkata, Ketika kami sedang berada dalam satuan militer bersama Abdullah bin Al Mubarak di negara Rum, tiba-tiba kami berpapasan dengan musuh. Dan ketika kami saling berhadapan ada seorang yang keluar dari barisan musuh, ia mengajak untuk berduel. Maka muncullah seorang dari kaum muslimin memenuhi tantangan duel. Tetapi ternyata musuh cukup tangguh. Jago muslim tersebut menemui syahidnya. Dan demikianlah, tujuh jago muslim berhasil tertaklukkan. Kemudian muncullah seorang lelaki bercadar melanjutkan tantangan duel. Dalam beberapa kali gebrakan ternyata jagoan kafir tersebut bias dihabisi. Kemudian muncullah jago seterusnya sampai tujuh orang berturut turut dan semuanya bias ditewaskan muslim bercadar tersebut. Ternyata tidak lain orang tersebut adalah Ibnu Mubarak. ”
Dari Muhammad bin Ibrahim bin Abu Sakinah, dia berkata ketika Abdullah bin Al Mubarak berada di Thursus, ia mendiktekan kepadaku beberapa bait sya’ir lalu aku membawa syair-syair itu kepada Al Fudhail bin Iyadh. Hal ini terjadi pada tahun 170 Hijriyah sedang menurut riwayat dari Abu Ghanim kejadian itu terjadi pada tahun 177 H. Di antara syair-syair itu adalah:
wahai abid haramain, jika kamu melihat kami
maka kamu akan mengetahui ibadahmu main-main
orang yang membasahi pipinya dengan air mata
maka kami membasahinya dengan darah kami
Semoga ke depannya muncul kembali ulama-ulama yang bisa meniru Abdullah bin Mubarak . Wallahul musta’an.

W A N I T A



Seorang wanita tercipta dengan lembut dan kuat. Ia adalah tulang rusuk, pelindung hati suaminya. Ia adalah permata, pemberi cahaya rumahnya. Baktinya sebagai anak, cintanya sebagai seorang ibu, dan setianya sebagai seorang istri. Itu semua adalah sebuah penghargaan tingkat tinggi yang diberikan Alloh padanya, just for her!

Wanita adalah pejuang bagi dirinya sendiri, ia adalah Mutiara! ia adalah batu zamrud hijau berkilauan yang akan memilih jalan hidupnya sendiri dalam dua pilihan yang telah kita ketahui. Surga atau neraka.

Wanita adalah bidadari, yang dapat menjadi bencana. Atau juga sebuah kebahagiaan tak terkira untuk dunia dan juga akhirat nanti. Ia tak terlalu lembut, namun juga tak begitu kuat. Hadirnya adalah sebuah buah simalakama, yang harus ia pilih sendiri hendak di bawa ke mana dirinya.

Karena itu, saat hari ini kulihat wanita di luar sana, dengan pilihan mereka. Terbersit sebuah tanya:
“MAU JADI WANITA SEPERTI APA DIRIKU?!!”

Aku bukanlah seorang wanita seperti temanku, dengan keteguhan hati yang sangat kuat. Aku terlalu mudah goyah, terlalu mudah merasa terluka. Terlalu egois. Terlalu kekanak-kanakan. Terlalu cepat down, walaupun aku pandai berkata-kata. Memberikan motivasi-motivasi terhadap orang lain. Padahal sejatinya, aku rapuh! Yaa, sangat rapuh. Sedangkan ia, si wanita kuat di sampingku itu. Dengan jalannya, dengan kebulatan tekadnya, berjalan dengan mantap di jalan dakwah! menolak dengan gembira sebuah bahkan seluruh rayuan dunia. Melangkahkan kaki ke tempat di mana ia harus terpenjara suci di dalamnya. Subhaanalloh! Jujur saja, aku iri alias jealous kepadanya.

Aku bukanlah wanita seperti temanku, yang mencintai seorang lelaki dengan doanya, menyimpannya dalam lubuk hati, dan mencurah air mata takwa di setiap sujudnya. Aku bukanlah ia, yang mampu menahan cintanya sertahun-tahun, mengukuhkan hati, dan dengan ikhlas menahan diri.

Aku bukanlah wanita seperti temanku, yang sangat tegar menghadapi cobaan, merasakan getir pahit kehidupan dengan mandiri. Aku bukan dia! yang sangat dewasa, sangat kuat, dan sangat mandiri.

Aku bukanlah temanku, yang sangat anggun dengan jilbab dan kerudung lebarnya, lembut dan santun dengan lakunya. Aku bukan dia, yang tersenyum dengn ikhlas di depan semua, bahkan dia yang sangat sabar dengan hidupnya.

Dan ketika aku memandang mereka. Dalam kaca benggala, aku bertanya :
"LALU BAGAIMANA DIRIKU ??!!"

Bagiku mereka adalah mujahidah-mujahidah wanita hebat! Layaknya Aisyah yang cerdas, Fatimah yang lembut dan cantik jelita, Khodijah yang setia, Khaulah binti Azur yang tangguh. Shofiyyah binti Abdul Mutholib yang tegas tetapi sabar. dan mujahidah-mujahdah lainnya.

“LALU, WANITA SEPERTI APA AKU ??
INGIN DI BAWA KEMANA KODRAT WANITAKU ??”

Pertanyaan itu menghampiri lagi, setiap ku bertemu dengan biasan wajahnya yang teduh. Kibaran pakaiannya yang anggun. Senyummnya yang tenang. Dan ketika ku jabat erat tangannya.

Saat aku bertanya itu, maka hanya jawaban lirih di hati yang berkata :
"KAU CUKUP MENJADI DIRI SENDIRI, MEMPERBAIKI YANG BELUM BAIK, MEMPERTAHANKAN YANG SUDAH BENAR, DAN TETAPLAH MENJADI WANITA PENYABAR!"

Yeah, MENJADI DIRI SENDIRI! Itu adalah sebuah jawaban yang paling sederhana dan paling sering kukatakan, namun………………………………..CUKUPKAH ITU ?? APA YANG KUMIIKI ??

Dan hatiku berkata untuk kedua kalinya :
"KAU MEMPUNYAI AKAL YANG BISA KAU GUNAKAN UNTUK BERPIKIR MELANGKAH KE KEBAIKAN DAN KEBENARAN!"

Yeah, aku mempunyai akal. Dan dengan akal itu aku bisa berpikir, dengan itu aku bisa membedakan mana BAIK DAN BURUK, tapi…………………………CUKUPKAH ITU ??

Kulihat wanita-wanita itu kembali, hatiku terkunci lagi. Tak menemukan mata rantai yang cocok. Untuk bisa membuka gembok-gembok yang mengunci hatiku. Rasanya sesak! Tak terasa buliran air bening menghinggapi pipi yang tak tahu apa-apa. Muncul dari kelopak mata, dan ku sekat dengan telapak tanganku dengan kasar. Buat apa mataku menjatuhkan senjata terakhir itu ?! takde guna! Bless..ternyata muncul lagi dan lagi. Bahkan semakin deras tak terbendung. Ya sudah, kali ini AKU KALAH! Yeah, aku mengaku AKU KALAH denganmu mata. Ku biarkan kau mengeluarkan buliran airmu, sampai puass! Silahkan! Namun……………….

Ku ingat lagi wanita-wanita itu. Dengan jalan dakwah mereka, dengan pilihan hidup mereka, dengan kekayaan hati mereka, sungguh jauh perbandingannya denganku. Dan pada akhirnya aku berkata dengan bibirku sendiri.

"SETIAP WANITA ISTIMEWA! DENGAN KEISTIMEWAAN PRIBADINYA, DAN JALAN DAKWAH ITU TAK AKAN PERNAH HABIS! DI SANALAH ADA SATU JALAN, DI MANA ITU ADALAH MILIKKU! YEAH, MILIKKU! DI MANA DENGAN ITU AKAN KUTEMUKAN KEINDAHAN, SEBUAH CAHAYA MENUJU KEBAHAGIAAN YANG KEKAL! INSYAA ALLOH!"

~WANITA ITU ISTIMEWA, SETIAP DARI MEREKA TERCIPTA DARI TULANG RUSUK YANG BERBEDA.~

  

Sang Pencari Bintang
-@ufishbt-

Kamis, 25 April 2013

Effektif Mempercantik Wajah Dengan Tahajud

Siapa yang tidak ingin tampil cantik? Kecantikan merupakan merupakah satu hal yang sangat diinginkan oleh para wanita. Mereka para kaum Hawa itu banyak yang telah mencoba berbagai kiat, baik dengan menggunakan berbagai kosmetik, pemutih atau menggunakan lulur, ekstrak bengkoang dan lain-lain agar wajahnya putih alami dan berseri. Terlepas dari keberhasilan semua trik-trik di atas yang notabene masih dipertanyakan terlebih lagi mengandung zat-zat kimia yang berbahaya, kenapa tidak menggunakan kiat yang satu ini?
Apa kiatnya? Yaitu shalat tahajjud di malam hari.
Berkata Imam Ibnul Qayyim, Sesungguhnya shalat malam itu dapat memberikan sinar yang tampak di wajah dan membaguskannya Ada sebagian istri yang memperbanyak pelaksanaan shalat malam. Ketika ditanyakan kepada mereka mengenai hal tersebut, mereka menjawab, Shalat malam itu dapat membaguskan wajah dan kami senang jika wajah kami menjadi lebih bagus.Demikian yang dituliskan oleh Mahmud Mahdi Al-Istanbuli di bukunya Kado Perkawinan halaman 312 ketika mengutip perkataan Ibnul Qayyim di buku Raudha Ath-Thalibin. [1]
Perlu juga diingat bahwa kiat ini bukan cuma monopoli kaum Hawa saja, kaum Adam pun perlu juga menerapkannya.
Keutamaan Shalat TahajjudDisamping hikmah diatas yang bisa di dapat dari melaksanakan shalat malam, shalat malam ini pun mempunyai keutamaan yang lain. Bahkan inilah yang lebih penting.
1. Allah akan mengangkat ke tempat yang terpuji, dalilnya adalah
“Dan pada sebagian malam hari bertahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.(Al Israa : 79).
2. Shalat malam dapat mendekatkan diri kepada Allah dan dapat menghapuskan dosa, dalilnya adalah
Hendaklah kalian melaksanakan shalat malam karena shalat malam itu merupakan kebiasaan orang-orang shaleh sebelum kalian, ibadah yang mendekatkan diri kepada Tuhan kalian, serta penutup kesalahan dan penghapus dosa. (HR. Tirmidzi no. 3549, Al Hakim I/380, Baihaqi II/502. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwaa Al Ghalil II/199/no. 452). [2]
3. Kemuliaan orang beriman ada pada shalat malam
Jibril berkata, Hai Muhammad, kemuliaan orang beriman ada dengan shalat malam. Dan kegagahan orang beriman adalah sikap mandiri dari bantuan orang lain. (Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah no. 831). [3]
Shalat malam yang paling utama adalah pada sepertiga malam yang terakhir. Pada saat ini doa akan dikabulkan oleh Allah. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwasannya Nabi pernah bersabda:
Allah turun ke langit dunia setiap malam pada sepertiga malam terakhir. Allah lalu berfirman, Siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan! Siapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku beri! Siapa yang meminta ampun kepada-Ku tentu Aku ampuni.Demikianlah keadaannya hingga fajar terbit. (HR. Bukhari no. 145 dan Muslim no. 758). [4]
Bagaimana Agar Bisa Shalat Tahajjud?Shalat malam termasuk ibadah yang berat, karena di saat kita terlelap dan masih mengantuk maka kita harus bangun untuk shalat. Berikut beberapa sebab agar kita dimudahkan untuk melaksanakan shalat malam.
1. Berusaha untuk tidur di awal malam dan menjauhkan diri dari begadang. Rasulullah membenci tidur sebelum Shalat Isyaa dan berbicara sesudah Shalat Isyaa. [5]
2. Ketika akan tidur, perhatikan adab-adab tidur, misalnya membaca doa sebelum tidur, membaca ayat kursi, membaca dua ayat terakhir dari surat Al Baqarah, membaca Surat Al Kaafirun, dll. [6]
3. Tidur sebentar di siang hari
4. Meninggalkan kemaksiatan, dosa dan perbuatan bid’ah
5. Berkeinginan kuat untuk shalat malam
6. Memasang jam beker. Bisa juga dengan saling membangunkan istri, suami, dan keluarga. Bahkan bisa dengan saling membangunkan tetangga atau teman dengan menelpon melalui handphone-nya. Saling berta’awun
 
http://www.galihgumelar.com

Gerhana Bulan

Nanti Tengah Malam Ada Shalat Gerhana Bulan, Perbanyak Doa, Istighfar dan Sedekah...!!!

Bismillahirrahmanirrahim,
Menurut situs dunia astronomi, tidak lama lagi sebuah peristiwa gerhana akan terjadi. Pada hari Jum’at (26/4/2013) pukul 01.03 WIB, Bulan akan mengalami Gerhana Bulan Sebagian (GBS). Hampir seluruh kawasan Indonesia dapat mengamati GBS ini. Hanya kawasan timur Indonesia saja yang akan sedikit kesulitan untuk mengamatinya karena Bulan sudah rendah di langit sebelah barat (hampir terbenam).

Tentunya sebagai umat Islam kita disunnahkan melakukan shalat khusuf (gerhana bulan). Salah satu organisasi Islam di Indonesia, Persatuan Islam (PERSIS) menghimbau masyarakat Indonesia, khususnya warga dan simpatisan PERSIS, untuk melaksanakan shalat khusuf (gerhana bulan) pada Jum’at dini hari tanggal 15 Jumadits-Tsaniyah 1434 H /26 April 2013 M.

Dalam Surat Edaran Nomor: 1095/JJ-C.3/PP/2013 Tentang Gerhana Bulan Sebagian (GBS), yang merujuk kepada Almanak Persatuan Islam Tahun 1434 H sebagai hasil perhitungan Dewan Hisab dan Rukyat Persatuan Islam, Pimpinan Pusat Persatuan Islam menyampaikan bahwa pada hari Jum’at (dini hari) tanggal 15 Jumadits-Tsaniyah 1434 H /26 April 2013 M akan terjadi Gerhana Bulan Sebagian (GBS):
1. Kontak awal Gerhana : pukul 02.52’.24” WIB
2. Pertengahan Gerhana : pukul 03.07’.24” WIB
3. Kontak akhir Gerhana : pukul 03.22’.18” WIB
Shalat khusuf ini dimulai dengan mengumandangkan takbir pada pukul 02.52 WIB dan kemudian pelaksanaan shalat khusuf pada pukul 03.15 WIB.

Shalat khusuf (gerhana bulan) dan kusuf (gerhana matahari) merupakan sunnat mua’kkad. Disunatkan bagi orang muslim untuk mengerjakannya. Hal itu didasarkan pada dalil berikut ini :

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia bercerita bahwa pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terjadi gerhana matahari, lalu beliau mengerjakan shalat bersama orang-orang. Maka beliau berdiri dan memanjangkan waktu berdiri, lalu beliau ruku dan memanjangkannya. Kemudian beliau berdiri dan memanjangkannya –berdiri yang kedua ini tidak selama berdiri pertama-. Setelah itu, beliau ruku dan memanjangkan ruku, ruku-nya ini lebih pendek dari ruku pertama. Selanjutnya, beliau sujud dan memanjangkannya. Kemudian beliau mengerjakan pada rakaat kedua seperti apa yang beliau kerjakan pada rakaat pertama. Setelah itu, beliau berbalik sedang matahari telah muncul. Lalu beliau memberikan khutbah kepada orang-orang. Beliau memanjatkan pujian dan sanjungan kepada Allah. Dan setelah itu, beliau bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya matahari dan bulan itu merupakan dua (tanda) dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak juga karena kehidupan seseorang. Oleh karena itu, jika kalian melihat hal tersebut maka hendaklah kalian berdo’a kepada Allah, bertakbir, shalat dan bersedekah”. Setelah itu, beliau bersabda : “Wahai umat Muhammad, demi Allah, tidak ada seorang yang lebih cemburu dari Allah jika hambaNya, laki-laki atau perempuan berzina. Wahai umat Muhammad, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis” [Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani] [1]

Maknanya, tidak ada yang lebih banyak mencela perbautan keji (zina) daripada Allah Ta’ala. Hal ini mengindikasikan bahwa Allah akan menghukum pelaku zina di dunia dan akhirat, atau di salah satunya. Ini memiliki korelasi dengan perintah untuk memperbanyak istighfar, zikir, doa, shalat dan shadaqah, karena maksiat adalah sebab utama datangnya bala’ dan musibah, dan maksiat yang paling hina adalah berzina. (Diringkaskan dari ketarangan Ibnul Hajar dalam Fath al-Baari, Bab Shadaqah fi al-Kusuf).

Diatas isi sebagian dari khutbah selesai Shalat khusuf (gerhana bulan), Sebagaimana dari hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, “Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sudah selesai dari shalat, beliau berdiri dan berkhutbah kepada jama’ah. Beliau memuji Allah dan menyanjungnya. Kemudian beliau mengatakan seperti diatas.

Disunnahkan pelaksanaan shalat gerhana di masjid, TIDAK ADA azan atau iqomah sebelumnya, hanya panggilan “Al-Shalatul Jami'ah.”

Tidak ada perselisihan di antara ulama, shalat gerhana dikerjakan dua rakaat. Dan pendapat yang masyhur dari pelaksanaannya adalah pada setiap rakaatnya dua kali berdiri, dua kali bacaan, dua kali ruku’, dan dua kali sujud. Ini adalah pendapat Imam Malik, Imam al-Syafi’i, dan Imam Ahmad rahimahumullah.

Ringkasan dari tata cara pelaksanaan shalat gerhana sebagai berikut:
1. Bertakbir, membaca do’a iftitah, Isti’adzah, al-Fatihah, kemudian membaca surat yang panjang, setara surat Al-Baqarah.
2. Ruku’ dengan ruku’ yang panjang (lama).
3. Bangkit dari ruku’ dengan mengucapkan Sami’Allahu Liman Hamidah, Rabbanaa wa Lakal Hamd.
4. Tidak langsung sujud, tetapi membaca kembali surat Al-Fatihah dan surat dari Al-Qur’an namun tidak sepanjang pada bacaan sebelumnya seukuran surat Ali Imran.
5. Kemudian Ruku’ dengan waktu ruku’ lebih pendek dari waktu ruku’ pertama.
6. Bangkit dari ruku’ dengan mengucapkan, Sami’Allahu Liman Hamidah, Rabbanaa wa Lakal Hamd.
7. Sujud, lalu duduk di antara dua sujud, kemudian sujud kembali.
8. Kemudian berdiri untuk rakaat kedua, dan caranya seperti pada rakaat pertama tadi.
9. Bertasyahud, dan
10. Salam

- Disunnahkan untuk melaksanakannya secara berjamaah di Masjid sebagaimana yang dilakukan rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Boleh pula dilaksanakan sendiri sebagaimana shalat sunnah lainnya, namun melakukannya secara berjamaah lebih afdhol (Utama).

- Menjaharkan Bacaan Dalam Shalat Kusuf :

Bacaan dalam shalat kusuf dibaca dengan jahr (suara keras), sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaharkan bacaannya dalam shalat kusuf. Jika selesai dari bacaannya, beliau pun bertakbir dan ruku. Dan jika dia bangkit ruku, maka beliau berucap : “Sami Allaahu liman Hamidah. Rabbana lakal hamdu”. Kemudian beliau kembali mengulang bacaan dalam shalat kusuf. Empat ruku dalam dua rakaat dan empat sujud.” Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani] [2]

- Jika Seseorang Tertinggal Mengerjakan Satu dari Dua Ruku Dalam Satu Raka’at :

Shalat kusuf ini terdiri dari dua rakaat, masing-masing rakaat terdiri dari dua ruku dan dua sujud. Dengan demikian, secara keseluruhan, shalat kusuf ini terdiri dari empat ruku dan empat sujud di dalam dua rakaat.

Barangsiapa mendapatkan ruku kedua dari rakaat pertama, berarti dia telah kehilangan berdiri, bacaan, dan satu ruku. Dan berdasarkan hal tersebut, berarti dia belum mengerjakan satu dari dua rakaat shalat kusuf, sehingga rakaat tersebut tidak dianggap telah dikerjakan.Berdasarkan hal tersebut, setelah imam selesai mengucapkan salam, maka hendaklah dia mengerjakan satu rakaat lagi dengan dua ruku, sebagaimana yang ditegaskan di dalam hadits-hadits shahih. Wallahu a’lam.

- Disunnahkan pula untuk memberikan khutbah nasehat kepada jama’ah setelah shalat, memperingatkan mereka dari berbagai kelalaian dan memerintahkan mereka untuk memperbanyak doa dan istighfar.

- Apabila gerhana masih berlangsung setelah shalat selesai, maka hendaklah berdzikir kepada Allah dan berdoa sampai gerhana berakhir, dan tidak mengulang shalat. (Dan dalam hadits diperintahkan pula untuk bershadaqah).

- Apabila gerhana selesai dan dia masih shalat hendaknya dia sempurnakan shalatnya dengan khafifah (dipercepat), tidak berhenti shalat begitu saja.


SHALAT GERHANA BULAN ITU SAMA DENGAN SHALAT GERHANA MATAHARI

Shalat gerhana bulan dikerjakan sama seperti shalat gerhana matahari. Hal tersebut didasarkan pada sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Sesungguhnya matahari dan bulan itu merupakan dua (tanda) dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak juga karena kehidupan seseorang. Oleh karena itu, jika kalian melihat hal tersebut maka hendaklah kalian berdo’a kepada Allah, bertakbir, shalat dan bersedekah”.[3]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah pernah mengerjakan shalat gerhana matahari dan beliau menyuruh kita untuk melakukan hal yang sama ketika terjadi gerhana bulan. Dan hal itu sudah sangat jelas lagi gamblang. Wallahu ‘alam
Ibnu Mundzir mengatakan : “Shalat gerhana bulan dikerjakan sama seperti shalat gerhana matahari” [4]

Catatan kaki :
[1]. Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi di beberapa tempat, yang diantaranya di dalam Kitaabul Kusuuf, bab Ash-Shadaqah fil Kusuuf (hadits no. 1044). Dan redaksi di atas adalah miliknya. Dan juga Muslim di dalam Kitaabul Kusuuf, bab Shalaatul Kusuuf (hadits no. 901).
[2]. Hadits shahih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari di beberapa tempat, di antaranya di dalam Kitaabul Kusuuf, bab Al-Jahr bil Qiraa’ah fil Kusuuf, (hadits no. 1065) dan lafazh diatas adalah miliknya. Dan juga diriwayatkan oleh Muslim di dalam Kitaabul Kusuuf, bab Shalaatul Kusuuf, (hadits no. 901). Lihat Jaami’ul Ushuul (VI/156)
[3]. Takhrijnya sudah diberikan sebelumnya, dimana ia merupakan bagian dari hadits Aisyah mengenai shalat kusuf yang disebutkan di awal pembahasan.
[4]. Al-Iqnaa, karya Ibnul Mundzir (I/124-125)

Referensi :
1. hf/islampos/bulughulmaram/voa-islam
2. Mulakhas Fiqhi, DR. Shalih bin Fauzan, Darul Ashomah Riyadh.
3. Kitab Bughyatul Mutathawwi Fii Shalaatit Tathawwu, Edisi Indonesia Meneladani Shalat-Shalat Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Penulis Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i/almanhaj.or.id

Merutinkan Shalat Sunnah Rawatib ======================================


Shalat sunnah rawatib adalah shalat sunnah yang mengiringi shalat lima waktu. Shalat sunnah rawatib yang dikerjakan sebelum shalat wajib disebut shalat sunnah qobliyah. Sedangkan sesudah shalat wajib disebut shalat sunnah ba’diyah.
Di antara tujuan disyari’atkannya shalat sunnah qobliyah adalah agar jiwa memiliki persiapan sebelum melaksanakan shalat wajib. Perlu dipersiapkan seperti ini karena sebelumnya jiwa telah disibukkan dengan berbagai urusan dunia. Agar jiwa tidak lalai dan siap, maka ada shalat sunnah qobliyah lebih dulu.

Sedangkan shalat sunnah ba’diyah dilaksanakan untuk menutup beberapa kekurangan dalam shalat wajib yang baru dilakukan. Karena pasti ada kekurangan di sana-sini ketika melakukannya.

Keutamaan Shalat Sunnah Rawatib

Pertama: Shalat adalah sebaik-baik amalan

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلاَةُ

“Ketahuilah, sebaik-baik amalan bagi kalian adalah shalat.”[HR. Ibnu Majah no. 277, Ad Darimi no. 655 dan Ahmad (5/282), dari Tsauban. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.]

Kedua: Akan meninggikan derajat di surga karena banyaknya shalat tathowwu’ (shalat sunnah) yang dilakukan

Tsauban –bekas budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah ditanyakan mengenai amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga atau amalan yang paling dicintai oleh Allah. Kemudian Tsauban mengatakan bahwa beliau pernah menanyakan hal tersebut pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau menjawab,

عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

“Hendaklah engkau memperbanyak sujud kepada Allah karena tidaklah engkau bersujud pada Allah dengan sekali sujud melainkan Allah akan meninggikan satu derajatmu dan menghapuskan satu kesalahanmu.”[HR. Muslim no. 488.] Ini baru sekali sujud. Lantas bagaimanakah dengan banyak sujud atau banyak shalat yang dilakukan?!

Ketiga: Menutup kekurangan dalam shalat wajib

Seseorang dalam shalat lima waktunya seringkali mendapatkan kekurangan di sana-sini sebagaimana diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلاَّ عُشْرُ صَلاَتِهِ تُسْعُهَا ثُمُنُهَا سُبُعُهَا سُدُسُهَا خُمُسُهَا رُبُعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا

“Sesungguhnya seseorang ketika selesai dari shalatnya hanya tercatat baginya sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, separuh dari shalatnya.”[HR. Abu Daud no. 796 dan Ahmad (4/321), dari ‘Ammar bin Yasir. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.]

Untuk menutup kekurangan ini, disyari’atkanlah shalat sunnah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلاَةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلاَئِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِى صَلاَةِ عَبْدِى أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِى مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِى فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ

“Sesungguhnya amalan yang pertama kali akan diperhitungkan dari manusia pada hari kiamat dari amalan-amalan mereka adalah shalat. Kemudian Allah Ta’ala mengatakan pada malaikatnya dan Dia lebih Mengetahui segala sesuatu, “Lihatlah kalian pada shalat hamba-Ku, apakah sempurna ataukah memiliki kekurangan? Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun, jika shalatnya terdapat beberapa kekurangan, maka lihatlah kalian apakah hamba-Ku memiliki amalan shalat sunnah? Jika ia memiliki shalat sunnah, maka sempurnakanlah pahala bagi hamba-Ku dikarenakan shalat sunnah yang ia lakukan. Kemudian amalan-amalan lainnya hampir sama seperti itu.”[HR. Abu Daud no. 864, dari Abu Hurairah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.]

Keempat: Rutin mengerjakan shalat rawatib 12 raka’at dalam sehari akan dibangunkan rumah di surga.

Dari Ummu Habibah –istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« مَنْ صَلَّى اثْنَتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِىَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa mengerjakan shalat sunnah dalam sehari-semalam sebanyak 12 raka’at, maka karena sebab amalan tersebut, ia akan dibangun sebuah rumah di surga.”

Coba kita lihat, bagaimana keadaan para periwayat hadits ini ketika mendengar hadits tersebut. Di antara periwayat hadits di atas adalah An Nu’man bin Salim, ‘Amr bin Aws, ‘Ambasah bin Abi Sufyan dan Ummu Habibah –istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang mendengar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara langsung.

Ummu Habibah mengatakan, “Aku tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari sejak aku mendengar hadits tersebut langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. ”

‘Ambasah mengatakan, “Aku tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari sejak aku mendengar hadits tersebut dari Ummu Habibah.”

‘Amr bin Aws mengatakan, “Aku tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari sejak aku mendengar hadits tersebut dari ‘Ambasah.”

An Nu’man bin Salim mengatakan, “Aku tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari sejak aku mendengar hadits tersebut dari ‘Amr bin Aws.”[HR. Muslim no. 728.]

Yang dimaksudkan dengan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari dijelaskan dalam riwayat At Tirmidzi, dari ‘Aisyah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنَ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

“Barangsiapa merutinkan shalat sunnah dua belas raka’at dalam sehari, maka Allah akan membangunkan bagi dia sebuah rumah di surga. Dua belas raka’at tersebut adalah empat raka’at sebelum zhuhur, dua raka’at sesudah zhuhur, dua raka’at sesudah maghrib, dua raka’at sesudah ‘Isya, dan dua raka’at sebelum shubuh.”[HR. Tirmidz no. 414, dari ‘Aisyah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.]

Hadits di atas menunjukkan dianjurkannya merutinkan shalat sunnah rawatib sebanyak 12 raka’at setiap harinya.[Lihat Bughyatul Mutathowwi’fii Sholati At Tathowwu’.]

Dua belas raka’at rawatib yang dianjurkan untuk dijaga adalah: [1] empat raka’at[8] sebelum Zhuhur, [2] dua raka’at sesudah Zhuhur, [3] dua raka’at sesudah Maghrib, [4] dua raka’at sesudah ‘Isya’, [5] dua raka’at sebelum Shubuh.

Shalat Qobliyah Shubuh Jangan Sampai Ditinggalkan

Shalat sunnah qobliyah shubuh atau shalat sunnah fajr memiliki keutamaan sangat luar biasa. Di antaranya disebutkan dalam hadits ‘Aisyah,

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Dua raka’at sunnah fajar (qobliyah shubuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.”[HR. Muslim no. 725.]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersemangat melakukan shalat ini, sampai-sampai ketika safar pun beliau terus merutinkannya.

‘Aisyah mengatakan,

لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - عَلَى شَىْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memiliki perhatian yang luar biasa untuk shalat sunnah selain shalat sunnah fajar.”[HR. Bukhari no. 1169.]

Ibnul Qayyim mengatakan, “Termasuk di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersafar adalah mengqoshor shalat fardhu dan beliau tidak mengerjakan shalat sunnah rawatib qobliyah dan ba’diyah. Yang biasa beliau tetap lakukan adalah mengerjakan shalat sunnah witir dan shalat sunnah qabliyah shubuh. Beliau tidak pernah meninggalkan kedua shalat ini baik ketika bermukim dan ketika bersafar.”[Zaadul Ma’ad, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/456, Muassasah Ar Risalah, cetakan keempat, 1407 H. [Tahqiq: Syu’aib Al Arnauth, ‘Abdul Qadir Al Arnauth]]

Tiga Model untuk Shalat Rawatib Zhuhur

Dalam melakukan shalat sunnah rawatib zhuhur ada tiga model yang bisa dilakukan.

Pertama: Empat raka’at sebelum Zhuhur dan dua raka’at sesudah Zhuhur sebagaimana telah dikemukakan dalam hadits ‘Aisyah di atas.

Kedua: Empat raka’at sebelum Zhuhur dan empat raka’at sesudah zhuhur. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits Ummu Habibah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرُمَ عَلَى النَّارِ

“Barangsiapa merutinkan shalat sunnah empat raka’at sebelum Zhuhur dan empat raka’at sesudah Zhuhur, maka akan diharamkan baginya neraka.”[HR.Abu Daud no. 1269, An Nasa-i no. 1816, dan At Tirmidzi no. 428. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.]

Ketiga: Dua raka’at sebelum Zhuhur dan dua raka’at sesudah Zhuhur. Dari Ibnu ‘Umar, beliau mengatakan,

فِظْتُ مِنَ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِى بَيْتِهِ ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِى بَيْتِهِ ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ

“Aku menghafal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sepuluh raka’at (sunnah rawatib), yaitu dua raka’at sebelum Zhuhur, dua raka’at sesudah Zhuhur, dua raka’at sesudah Maghrib, dua raka’at sesudah ‘Isya, dan dua raka’at sebelum Shubuh.”[HR. Bukhari no. 1180.]

Lebih Bagus Menjalankan Shalat Sunnah di Rumah

Di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menjalankan setiap shalat sunnah di rumah, kecuali jika memang ada hajat atau faktor lain yang mendorong untuk melakukannya di masjid.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ الْمَرْءِ فِى بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةَ

“Sesungguhnya seutama-utama shalat adalah shalat seseorang di rumahnya selain shalat wajib.”[HR. Bukhari no. 731 dan Muslim no. 781.]

Di antara keutamaan lainnya mengerjakan shalat di rumah, apalagi ketika baru datang dari masjid atau akan pergi ke masjid terdapat dalam hadits Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا خرجت من منزلك فصل ركعتين يمنعانك من مخرج السوء وإذا دخلت إلى منزلك فصل ركعتين يمنعانك من مدخل السوء

“Jika engkau keluar dari rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang ada di luar rumah. Jika engkau memasuki rumahmu, maka lakukanlah shalat dua raka’at yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah.”[HR. Al Bazzar. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat As Silsilah Ash Shohihah no. 1323.]

Kontinu dalam Amalan itu Lebih Baik

Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. [HR. Muslim no. 783, Kitab shalat para musafir dan qasharnya, Bab Keutamaan amalan shalat malam yang kontinu dan amalan lainnya.]

An Nawawi rahimahullah mengatakan, ”Ketahuilah bahwa amalan yang sedikit namun konsekuen dilakukan, itu lebih baik dari amalan yang banyak namun cuma sesekali saja dilakukan. Ingatlah bahwa amalan sedikit yang rutin dilakukan akan melanggengkan amalan ketaatan, dzikir, pendekatan diri pada Allah, niat dan keikhlasan dalam beramal, juga akan membuat amalan tersebut diterima oleh Sang Kholiq Subhanahu wa Ta’ala. Amalan sedikit namun konsekuen dilakukan akan memberikan ganjaran yang besar dan berlipat dibandingkan dengan amalan yang sedikit namun sesekali saja dilakukan.”[Syarh Muslim, An Nawawi, 6/71, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, tahun 1392 H.]

Ibnu Rajab Al Hambali menjelaskan, ”Amalan yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah amalan yang konsekuen dilakukan (kontinu). Beliau pun melarang memutuskan amalan dan meninggalkannya begitu saja. Sebagaimana beliau pernah melarang melakukan hal ini pada sahabat ’Abdullah bin ’Umar.”[ Fathul Baari lii Ibni Rajab, 1/84, Asy Syamilah]

Bagaimana dengan seseorang yang tidak mau merutinkan shalat sunnah rawatib?

Jawaban:
Barangsiapa yang terus-terusan meninggalkan shalat sunnah rawatib, ini menunjukkan kurangnya agamanya dan persaksiannya bisa jadi tertolak. Inilah yang menjadi pendapat Imam Ahmad, Imam Asy Syafi’i dan selainnya.

[Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 23/127]

Demikian sedikit penjelasan dari kami mengenai shalat sunnah rawatib. Semoga kita termasuk hamba Allah yang bisa merutinkannya. Hanya Allah yang memberi taufik.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.